Abstract: Gebang Bunder is a village located in Plandaan sub-district, Jombang district. The village is used as the location of group 49th of Kuliah Kerja Nyata (KKN) from IAIN Kediri for 45 days, from 2nd of July to 16th of August, 2019. The method used in this KKN is the Parcipatory Action Research (PAR) which focuses on community empowerment for the creation of an independent community. Based on the result of transect and mapping, it was found that there were three issues faced by the communities of Gebang Bunder village; in the religious, social and economics fields. Religion issue is the most crucial one. Activities that have been carried out as a form of accompanying the communities are prayer in congregation, following Yasin and khotmil Qur’an in routine, assisting TPQ, studying Al-Quran together, holding Arabic Camp, and go clean activities.
Abstrak: Gebang Bunder merupakan desa yang terletak di kecamatan Plandaan kabupaten Jombang. Desa ini dijadikan sebagai lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) kelompok 49 IAIN Kediri selama 45 hari terhitung sejak tanggal 2 Juli sampai 16 Agustus 2019. Metode yang digunakan dalam KKN ini adalah Parcipatory Action Research (PAR) yang mana berfokus pada pemberdayaan masyarakat demi terciptanya masyarakat mandiri. Berdasarkan hasil transect dan mapping ditemukan bahwa ada 3 permasalahan umum yang dihadapi warga desa Gebang Bunder; bidang keagamaan, sosial dan ekonomi. Masalah keagamaan merupakan permasalahan yang paling krusial yang dihadapi warga. Kegiatan yang telah dilakukan sebagai bentuk pendampingan terhadap warga adalah sholat berjamaah, mengikuti yasinan dan khotmil Qur’an, membantu kegiatan TPQ, mengadakan kegiatan belajar mengaji bersama di posko KKN 49, mengadakan kegiatan Arabic Camp, serta melakukan kegiatan go clean.
Kata kunci: Kuliah Kerja Nyata (KKN), Gebang Bunder, Parcipatory Action Research (PAR)
PENDAHULUAN
Gebang Bunder merupakan sebuah desa yang terletak di kecamatan Plandaan kabupaten Jombang. Desa ini memiliki lokasi yang sangat strategis karena terletak di perbatasan kabupaten Nganjuk dan kabupaten Jombang. Desa ini kemudian dipilih sebagai lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) kelompok 49 IAIN Kediri. Kegiatan KKN dilakukan selama 45 hari terhitung mulai tanggal 2 Juli sampai 16 Agustus 2019. Metode yang digunakan dalam kegiatan KKN ini adalah metode PAR (Participatory Action Research) atau dalam bahasa Indonesia disebut juga metode (partisipatif, aksi dan penelitian), dengan sistematika; to know (mengetahui), to understand (memahami), to plan (merencanakan), dan to action (aksi). PAR merupakan salah satu metode dengan tujuan terciptanya masyarakat mandiri melalui pemberdayaan masyarakat (Rasyid, dalam Musyafa’ah: 2017). Salah satu tujuan dari KKN ini yaitu untuk merubah cara pandang tentang penelitian dengan menjadikan penelitian sebuah proses partisipasi dan membawa perubahan (Transformation) nilai sosial di masyarakat.
Salah satu tahap untuk mengetahui bagaimana kondisi masyarakat desa Gebang Bunder yaitu dengan kegiatan transect. Kegiatan menelusuri daerah secara jeli untuk memperoleh informasi atau data secara maksimal. Dari transect yang kami lakukan secara bertahap yang meliputi dusun Bunder, Jatisari, Binorong, dan Gebang, terdapat beberapa masalah dari berbagai bidang. Akan tetapi dalam jurnal ini kami hanya mengangkat tema dalam bidang agama. Agama merupakan hal penting dalam kehidupan manusia di dunia dan akhirat kelak. Contoh permasalahan agama di desa Gebang Bunder yaitu kurang adanya antusias masyarakat untuk sholat berjama’ah, kurangnya tenaga pendidikan di TPQ, dan kurangnya pengetahuan warga tentang agama.
Selain permasalahan yang menjadi titik pandang pendekatan KKN ini adalah potensi yang dimiliki oleh desa, dimana dari potensi yang ada perlu digali dan dikembangkan untuk menjadi lebih baik lagi. Dari pengembangan tersebut salah satu dampak positifnya yaitu dapat menambah pendapatan atau perekonomian masyarakat desa Gebang Bunder. Selain itu juga dapat memberikan tambahan kegiatan untuk masyarakat yang nganngur atau memiliki banyak waktu luang. Potensi dalam bidang agama yang dimiliki desa Gebang Bunder salah satunya ialah hadrah dari kalangan anak-anak usia sekolah MI-Mts. Mereka sangat antusias namun belum ada wadah atau pelatihan dalam mengembangkan bakat mereka.
Dari berbagai fenomena masyarakat diatas, untuk itu perlu adanya tindak lanjut untuk menanggulangi beberapa dari banyaknya permasalahan. Sesuai dengan program KKN PAR, jurnal ini berisi solusi dari mahasiswa KKN kelompok 49 IAIN Kediri sebagai mediator dalam pemberdayaan masyarakat dengan tujuan membentuk masyarakat mandiri. Solusi dari permasalahan dan pengembangan potensi yang dimiliki desa yang akan diolah untuk menjadi sebuah program kerja dari KKN PAR. Untuk itu perlu adanya penggalian data, diskusi dengan masyarakat (FGD), hingga menjadi sebuah program kerja yang baik.
DESKRIPSI DESA GEBANG BUNDER
Asal mula pemberian nama desa Gebang Bunder adalah gabungan dari empat dusun yaitu dusun Gebang, dusun Binorong, dusun Jatisari dan dusun Bunder dan ini terjadi pada kurun waktu tahun 1914 sampai dengan tahun 1921.
Nama dusun Gebang diambil dari sebuah nama pohon yang dikeramatkan oleh warga sekitar yang berada pada lokasi tempat sesaji jaman dulu. Pohon itu bernama Pohon Gebang dan nama itu digunakan sebagai nama dusun untuk mudah dikenali. Nama Binorong diambil dari nama sesepuh desa yang bernama R Binorong yang mempunyai putri mbok Rondo Binorong yang pekerjaannya menjalankan perahu penyeberangan di Sungai Brantas. Waktu terjadi perang tuban dan kediri seorang prajurit dari tuban menyeberang naik perahu (Baito Putih) prajurit tersebut memberi nama desa tersebut dusun Binorong. Nama Jatisari diambil dari sebuah pohon jati yang sangat besar saat babat alas (hutan). Karena besarnya pohon itu dan menjadi kekaguman warga maka tempat itu diberi nama Jatisari, sampai sekarang pohon tersebut terkubur di tanah pemukiman penduduk dusun itu. Nama dusun Bunder diambil dari cerita awal seperti halnya dusun Binorong. Dusun Bunder merupakan pertemuan (tempuran) aliran sungai Brantas dan sungai Beng. Tempat tersebut merupakan pertemuan arus sungai yang menyebabkan pusaran air yang sangat dahsyat atau deras. Karena pusaran air yang bentuknya Bunder/melingkar maka tempat itu dinamakan Dusun Bunder. Nama Gebang Bunder diambil dari dua dusun yang mengapit dua dusun lainnya karena letaknya yang berjajar, dari arah timur kearah barat yaitu Gebang, Binorong, Jatisari, Bunder, jadi Gebang Bunder diambil karena mengapit dusun Binorong dan Jatisari. Empat dusun tersebut di gabung menjadi satu desa dengan nama Desa Gebang Bunder pada jaman Pemerintah Belanda sekitar tahun 1921 berdasarkan Peraturan Daerah.
Pada jaman Pemerintahan Belanda desa Gebang Bunder mula-mula terdiri atas empat kelurahan yang sekarang ini menjadi satu desa. Empat kelurahan itu sekitar tahun 1921 dijadikan satu oleh Pemerintah Belanda. Kelurahan itu adalah kelurahan Gebang, kelurahan Binorong, kelurahan Jatisari, kelurahan Bunder. Tiap kelurahan masing-masing memiliki lurah, carik, polo dan lain-lainya, setelah empat kelurahan digabung ( blengketan = istilah waktu itu ) menjadi sebuah desa Gebang Bunder yang terdiri atas empat dusun, yaitu dusun Gebang, dusun Binorong, dusun Jatisari, dusun Bunder.
Desa Gebang Bunder merupakan salah satu dari beberapa desa yang ada di Kecamatan Plandaan Kabupaten Jombang. Secara geografis desa Gebang Bunder terdiri dari 4 dusun dengan jumlah penduduk kira-kira 2024 jiwa. Adapun batas-batas wilayah desa Gebang Bunder adalah sebagai berikut: sebelah utara desa Kampung Baru, sebelah selatan desa Megaluh, sebelah barat desa Munung, sebelah timur Jatimlerek.
Jumlah penduduk desa Gebang Bunder pada tahun 2019 mencapai 2024 jiwa terdiri laki-laki 990 jiwa dan perempuan 1036 jiwa dengan jumlah KK 818 KK. Luas desa Gebang Bunder adalah 196,0000 Ha/m2, dengan rincian yaitu luas pemukiman 38,200000 Ha/m2, luas persawahan 85,400000 Ha/m2, luas kuburan 1,200.000 Ha/m2, luas perkantoran 0,300000 Ha/m2
Mata pencaharian masyarakat desa Gebang Bunder beragam, meliputi: PNS, wiraswasta, tukang kayu, pedagang, peternak, penambang pasir, selain itu mayoritas mata pencahariannya adalah sebagai petani/pekebun.
Dalam dimensi religiusitas, di desa Gebang Bunder mayoritas beragama Islam. Dalam hal keagamaan masyarakat desa Gebang Bunder masih belum begitu sadar tentang beribadah atau keagamaan, hal ini terbukti dengan jumlah jama’ah sholat masih sebatas tempat-tempat tertentu. Kegiatan rutin jam’iyah keagamaan seperti Yasinan, Istighosah dan TPQ tidak jauh berbeda dengan jamaah sholat masih sebatas tempat ataupun dusun tertentu yang melaksanakannya. Akan tetapi untuk jam’iyah yasin sudah merata meskipun itu hanya di lakukan oleh ibu-ibu saja.
Dalam dimensi sosial, masyarakat Gebang Bunder memiliki tingkat sosial yang kurang. Masyarakat disini dari pagi hingga sore sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, sehingga jarang ada waktu untuk kegiatan bersama, akan tetapi ketika ada acara masyarakat masih menunjukkan rasa peduli dan tolong-menolong untuk mensukseskan acara tersebut.
KEGIATAN KEAGAMAAN DESA GEBANG BUNDER
Pancasila sebagai landasan ideologis negara Indonesia menyatakan pada sila pertama yang berbunyi; ketuhanan yang maha esa. Hal ini menjadi identifkasi bahwa setiap warga Indonesia pada dasarnya memiliki keyakinan akan Tuhan. Tidak terkecuali bagi warga desa Gebang Bunder. Mayoritas masyarakat memeluk agama Islam yang memang notabenenya adalah agama dengan persentase terbesar di Indonesia. Akan tetapi, realitanya banyak masyarakat desa yang masih memegang adat istiadat leluhur seperti bersih desa dan menaruh sesaji di tempat tertentu untuk melancarkan sebuah keinginan atau hajat yang ingin dicapai.
Kegiatan keagamaan di desa seperti yasinan ibu-ibu rutin dilaksanakan secara bergantian di rumah para anggota. Setiap dukuan di desa memiliki jam’iyah tersendiri. Bapak-bapak di desa memiliki kegiatan rutin khotmil Qur'an yang bertempat di setiap mushola dan masjid desa secara bergantian. Namun kegiatan ini masih kurang mendapat antusias dikarenakan rendahnya kesadaran warga. Selain itu, beberapa warga merasa masih memiliki kekurangan dalam membaca Al-Quran sehingga merasa malu dan enggan untuk berpartispasi. Padahal kegiatan tersebut merupakan wadah bagi warga untuk belajar dan saling mengakrabkan satu sama lain, memperkuat tali persaudaraan serta saling menguatkan dalam keimanan. Pemahaman seperti ini harus dibangun dalam diri semua warga.
Kegiatan keagamaan untuk anak-anak dan remaja juga tidak berjalan dengan efektif. Para remaja desa kurang aktif di mushola dan masjid, sehingga hampir tidak ada remaja yang aktif membantu atau mengurus mushola dan masjid. Desa pada awalnya telah memfasilitasi para remaja untuk membangun aktifitas kerohanian dengan memberikan alat untuk seni Hadrah dan Banjari. Namun karena kurangnya antusias dari para remaja dan tidak adanya pembimbing yang dapat melatih remaja secara rutin serta sulitnya bagi para remaja menyisihkan waktu untuk latihan pada akhirnya membuat kegiatan ini tidak berjalan dengan efektif.
Desa Gebang Bunder memiliki 4 TPQ; 1 TPQ di dusun Bunder, 2 TPQ di dusun Binorong, dan 1 TPQ di dusun Gebang. Dari keempat ini, TPQ dusun Bunder merupakan kegiatan TPQ yang paling terstruktur dan tertata. Kegiatan TPQ dusun Bunder dilaksanakan di masjid An-Nur, yang mana merupakan satu-satunya masjid yang ada di desa Gebang Bunder. TPQ dusun Bunder juga memiliki 4 tenaga pengajar sehingga kegiatan mengaji lebih efektif. Sebaliknya, TPQ lain dalam aktfitasnya masih belum terstruktur. TPQ di dusun Gebang dilaksanakan di ruangan kosong di balai dusun Gebang. Tenaga pengajarnya juga sangat minim. Hanya ada satu tenaga pengajar dengan jumlah anak didik lebih dari 20 sehingga membuat kegiatan mengaji kurang efektif. TPQ di dusun Binorong juga memiliki kasus yang serupa. Kegiatan mengaji dilakukan di sebuah warung dan hanya memiliki satu tenaga pengajar. Pada awalnya kegiatan ini dilakukan di mushola, namun karena pengajar tersebut harus menjaga warung dan usianya telah lanjut maka kegiatan kemudian dilakukan di warung beliau.
TPQ di desa Gebang Bunder belum memiliki sistem pasti seperti pengelompokan jenjang pendidikan antara anak didik satu dengan yang lain. Ada pula TPQ yang waktu pelaksanaannya tergantung hadir atau tidaknya anak didik sehingga tidak tertata dengan baik. Melihat permasalahan ini, diperlukan adanya kaderisasi atau rekrutmen tenaga pengajar dan menetapkan sistem pendidikan TPQ yang setara bagi semua dusun. Perlu adanya kesadaran dan kepekaan masyarakat desa untuk membantu membentuk dan membangun TPQ, karena TPQ berperan penting untuk masyarakat terutama anak-anak khususnya bagi yang beragama Islam. TPQ merupakan media bagi anak untuk memperdalam ilmu keagamaan, sehingga dari TPQ diharapkan bisa muncul generasi yang mampu merubah paradigma masyarakat yang masih memegang tradisi adat yang bertentangan dengan agama.
KEADAAN SOSIAL DESA GEBANG BUNDER
Ada beberapa permasalahan sosial yang menjadi sorotan kami selama kegiatan KKN di desa Gebang Bunder. Yang pertama adalah masalah kerukunan antar warga. Komunikasi yang baik merupakan kunci dalam kehidupan sosial. Dalam kehidupan masyarakat desa, khususnya mendekati waktu pemilihan kepala desa, menjaga komunikasi dalam rangka mencegah perpecahan antar warga sangat diperlukan. Setiap warga memiliki persepsi masing-masing dalam memilih kepala desa yang akan datang. Apabila persepsi yang berbeda ini berlarut dan terbawa dalam aspek sosial lainnya, tidak menutup kemungkinan akan terjadi perselisihan antar warga. Terlebih warga Gebang Bunder dapat dikatakan individualis. Warga jarang bersosialisasi karena sibuk bekerja. Oleh karena, komunikasi yang baik dari perangkat desa setempat dan warga diperlukan dalam menjaga kerukunan serta ketentraman warga.
Masalah lainnya yang menjadi sorotan adalah sampah. Banyak warga yang tidak memiliki tempat sampah di rumahnya. Mereka lebih memilih membuang sampah di lahan kosong sekitar rumah mereka, terlebih setelah dikonfirmasi lahan itu milik orang lain. Warga masih tidak menyadari tindakan seperti itu dapat menimbulkan masalah, seperti timbulnya bibit penyakit, bau tidak sedap dan banjir. Warga juga masih belum mengetahui cara memisahkan sampah berdasarkan jenisnya dan cara mendaur ulang sampat plastik menjadi kerajinan tangan yang memiliki nilai ekonomis.
Permasalahan sosial lainnya ialah kurangnya kepekaan anak-anak dan remaja terhadap perkembangan desa. Hal ini terlihat dari kurang berjalannya, bahkan bisa dibilang vakum, organisasi Karang Taruna desa. Padahal Karang Taruna merupakan wadah bagi para remaja untuk menuangkan ide kreatif mereka dalam membangun desa. Karang Taruna berjalan dan mulai aktif ketika ada kegiatan tertentu semisal agustusan. Banyak faktor yang mempengaruhi mereka vakum di karang taruna. Salah satu faktor vakumnya karang taruna adalah banyak remaja setelah lulus SMA langsung mencari kerja ke luar kota, tanpa mengadakan kaderisasi anggota baru untuk melanjutkan karang taruna.
PEREKONOMIAN DESA GEBANG BUNDER
Masyarakat desa Gebang Bunder mayoritas berprofesi sebagai petani dan buruh tani. Meskipun begitu, kegiatan bertani warga masih mengalami banyak hambatan. Para petani banyak yang kesulitan untuk mendapatkan air, walaupun lokasi desa dekat dengan sungai Brantas. Hal ini terjadi karena desa Gebang Bunder merupakan datararan tinggi yang lebih tinggi dari pada sungai, sehingga air tidak dapat mengalir ke tanah-tanah desa. Untuk mendapatkan air, para petani harus bergantung dengan alat pompa air yang digunakan bergiliran dengan 2 desa tetangga. Untuk sekali pengairan diperlukan dana kurang lebih Rp. 300.000 rupiah. Kendala lainnya adalah banyaknya hama yang merusak tanaman sehingga banyak petani yang mengalami gagal panen. Hama yang paling mengganggu adalah tikus. Masyarakat sudah mengerahkan segala cara untuk menghilangkan hama tersebut termasuk meracuni, dengan burung, terakhir menggunakan tegangan listrik. Cara tersebut memang berbahaya, terlebih sudah memakan korban jiwa dari warga sendiri, tetapi masyarakat menyakini dengan cara tersebut sedikit mengurangi hama tikus. Meski hasil panen yang tidak sesuai dengan yang diharapkan, warga tetap mensyukurinya dengan kegiatan bersih desa atau sedekah bumi.
Sektor ekonomi lainnya adalah budidaya ikan yang berpusat di dusun Bunder. Budidaya tersebut sangat membantu perekonomian warga terutama ibu-ibu desa yang kebanyakan kurang produktif. Terdapat 2 kelompok budidaya ikan yang masing-masing terdiri dari 20 anggota. Kendala dari budidaya ikan ini adalah mahalnya biaya pakan yang harus dikeluarkan. Oleh karena itu, para peternak ikan berinisiatif untuk mengganti pakan ikan yang semula pelet menjadi olahan usus ayam dengan campuran tertentu. Hasilnya tidak kalah dengan pelet yang biasa digunakan hanya saja perlu perawatan ekstra terhadap kolam ikan tersebut. Peternak harus lebih sering membersihkan dan mengganti air kolam. Budidaya ikan ini masih berpusat pada dusun Bunder. Sedangkan untuk dusun lainnya masih belum berkembang.
Permasalahan lainnya adalah kurangnya kesadaran warga dalam memanfaatkan lahan yang ada sebagai sarana kegiatan warga atau tempat wisata. Banyak lahan desa yang dapat dikembangkan, terlebih Gebang Bunder merupakan desa yang memiliki panorama indah. Lahan yang ada bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin dengan membangun sarana olahraga, sanggar seni, atau dijadikan sebagai desa wisata dengan memanfaatkan lahan kosong desa, sehingga dapat menambah pemasukan daerah.
PEMBAHASAN DAN SOLUSI PERMASALAHAN
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, terdapat 3 permasalahan yang menjadi sorotan kelompok 49 IAIN Kediri di desa Gebang Bunder; keagamaan, sosial, dan ekonomi. Pada bidang keagamaan, masyarakat Desa Gebang Bunder masih belum begitu sadar tentang beribadah atau keagamaan. Masyarakat masih kental dengan budaya tradisionalnya baik dari segi pemikirannya maupun tindakannya. Hal ini terbukti dengan sedikitnya jumlah jama’ah sholat di masjid dan mushola, kegiatan rutin jam’iyah keagamaan seperti Istighosah yang kurang mendapatkan antusiasme dari warga serta kegiatan TPQ yang kurang merata dan terstruktur.
Pada bidang sosial, kepekaan warga desa Gebang Bunder masih terbilang rendah. Kurangnya sosialisasi antar warga menjadikan warga lebih individualis dan kurang rukun. Remaja desa juga kurang aktif melakukan kegiatan yang bermanfaat untuk mengembangkan potensi desa. Selain itu, pengelolaan sampah kurang mendapat perhatian sehingga kebersihan lingkungan masih kurang terjaga.
Pada bidang ekonomi, permasalahan yang dihadapi mayoritas datang dari sektor pertanian. Kendala yang dihadapi ialah sulitnya pengairan dan banyaknya hama. Pada sektor budidaya ikan, permasalahan datang dari tingginya biaya yang harus dikeluarkan untuk pakan ikan. Permasalahan lainnya yakni kurangnya pengelolaan lahan potensial secara maksimal.
Dari kegiatan pemetaan problematika yang telah dilakukan, tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) PAR IAIN Kediri Kelompok 49 tahun 2019 mengidentifikasi permasalahan dalam bidang agama menjadi permasalahan krusial yang dihadapi warga. Agama merupakan orientasi dari segala ativitas duniawi. Oleh karena itu perlu adanya perbaikan dari segi keagamaan terlebih dahulu sebelum akhirnya menyebar pada permasalahan lainnya. Selain itu, tim KKN merupakan mahasiswa IAIN Kediri yang pada teknisnya berkaitan dengan agama Islam, sehingga untuk melakukan pendekatan dan indentifikasi permasalahan dalam bidang keagamaan lebih mudah dari pada permasalahan dalam bidang sosial dan ekonomi.
Seperti yang diketahui, masyarakat desa Gebang Bunder mayoritas memeluk agama Islam. Sekilas cukup banyak kegiatan keagamaan yang dilakukan di desa Gebang Bunder, namun praktiknya masih banyak warga yang kurang antusias dan ikut berpastisipasi. Berdasarkan hal tersebut, terdapat beberapa aksi pendampingan yang dilakukan tim KKN untuk meningkatkan kesadaran warga untuk mengikuti kegiatan keagamaan yang ada.
Kegiatan pertama yang dilakukan adalah mengikuti sholat berjamaah di masjid maupun mushola. Desa Gebang Bunder secara keseluruhan memiliki 1 masjid dan 8 mushola. Tim KKN secara merata disebar di seluruh masjid dan mushola-mushola untuk melakukan sholat berjamaah. Terkadang mahasiswa laki-laki bergantian menjadi imam di masjid dan mushola-mushola tersebut. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan menarik perhatian dan antusiasme warga sehingga lebih bersemangat untuk sholat berjamaah.
Kegiatan kedua yakni mengikuti yasinan dan khotmil Quran baik yang rutin maupun yang individu. Kegiatan yasinan dan khotmil Quran dilakukan secara bergantian antar anggota tim dengan membagi per waktu dan lokasi. Kegiatan ini dilakukan sebagai media bersosialisasi tim dengan warga. Selain itu juga sebagai bentuk apresiasi dan antusiasme terhadap kegiatan keagamaan warga.
Kegiatan ketiga yakni membantu kegiatan TPQ. Anggota tim KKN dibagi perkelompok dan dilakukan bergiliran di setiap dusun setiap hari untuk membantu mengajar di seluruh TPQ yang ada di desa Gebang Bunder. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membantu tenaga pengajar yang ada di TPQ. Karena tenaga pendidik menjadi lebih banyak, maka setiap anak didik mendapat lebih banyak perhatian sehingga proses belajar mengaji menjadi lebih efektif.
Kegiatan keempat yakni mengadakan kegiatan belajar mengaji bersama di posko KKN 49 di dusun Jatisari. Belajar mengaji bersama terbuka untuk semua anak desa Gebang Bunder. Kegiatan ini dilakukan setelah magrib setiap hari kecuali malam jumat dan malam minggu. Semua anggota tim berpartisipasi untuk membantu anak-anak memperdalam bacaan Al-Quran. Selain itu, diberikan materi tambahan khususnya terkait ibadah sholat agar anak-anak lebih memahami tata cara dan bacaan sholat yang baik dan benar. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membuka peluang bagi anak-anak yang tidak memiliki waktu atau tidak dapat menjangkau karena rumah yang jauh untuk mengikuti kegiatan TPQ yang dilakukan setiap sore. Kegiatan ini juga sebagai bentuk sosialisasi dengan anak-anak desa Gebang Bunder.
Kegiatan kelima yakni Arabic Camp. Kegiatan ini merupakan bentuk edukasi bahasa Arab kepada anak-anak dengan proses yang menyenangkan. Anak-anak diajak bermain dan bernyanyi dengan menggunakan bahasa Arab sederhana yang sesuai dengan tingkatan usianya. Seluruh anggota tim berpartisipasi dalam kegiatan ini. Kegiatan ini bertujuan untuk menarik perhatian anak-anak dan mengubah persepsi mereka terhadap bahasa Arab yang dinilai sulit. Bahasa Arab merupakan bahasa yang digunakan dalam Al-Quran, sehingga memahami bahasa Arab akan mempermudah mereka dalam memahami bacaan Al-Quran. Sayangnya kegiatan ini hanya terbatas pada jenjang MI saja. Arabic Camp tidak dilakukan di SD karena tidak adanya mata pelajaran bahasa Arab.
Yang terakhir adalah kegiatan bersih-bersih masjid dan mushola (go clean). Semua anggota dibagi menjadi beberapa tim dan disebar di semua masjid dan mushola. Kegiatan ini dilakukan setiap akhir pekan antara hari sabtu atau minggu. Tujuan dari kegiatan ini adalah membantu pengurus untuk membersihkan masjid dan mushola dan sekitarnya. Tempat ibadah yang bersih akan membuat warga lebih nyaman dan khusyuk dalam menjalankan ibadah.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Berdasarkan pemaparan diatas dapat diketahui bahwa selama kegiatan KKN di desa Gebang Bunder oleh kelompok 49 IAIN Kediri, ditemukan beberapa permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat yang meliputi; keagamaan, sosial, dan ekonomi. Dari ketiga permasalahan tersebut, sorotan utama kami pada jurnal ini adalah pada masalahan keagamaan. Kurangnya pemahaman warga terhadap agama Islam dan masih minimnya kesadaran untuk menjalankan kegiatan keagamaan itu membuat kami pada akhirnya mengadakan beberapa kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran warga dalam beribadah. Kegiatan yang telah dilakukan antara lain; menjalankan sholat berjamaah di masjid dan mushola-mushola, mengikuti yasinan dan khotmil Qur’an baik rutin maupun individu untuk ibu-ibu dan bapak-bapak, membantu kegiatan TPQ, mengadakan kegiatan belajar mengaji bersama di posko KKN 49, mengadakan kegiatan Arabic Camp, serta membantu pengurus untuk membersihkan masjid dan mushola-mushola setiap akhir pekan.
Artikel jurnal berisi kegiatan dan pemecahan masalah yang terjadi di desa Gebang Bunder sebagai lokasi kegiatan KKN kelompok 49 mahasiswa IAIN Kediri. Jurnal ini direkomendasikan kepada para pembaca untuk mengetahui lebih dalam tentang desa Gebang Bunder. Selain itu jurnal ini juga direkomendasikan khususnya untuk adik tingkat yang akan melakukan KKN dikemudian hari, baik di desa Gebang Bunder maupun di lokasi KKN lainnya. Harapannya artikel jurnal ini dapat menjadi referensi untuk kegiatan selama KKN dan panduan untuk menulis artikel jurnal hasil kegiatan KKN.
Daftar Pustaka
Nur Lailatul Musyafa’ah, “Pemberdayaan Masyarakat Desa Wisata Budaya Jonotemayang Bojonegoro Jawa Timur”, Dimas, Volume 17 Nomor 2 Tahun 2017
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Gebangbunder,_Plandaan,_Jombang, diakses pada 29 Agustus 2019
Komentar
Posting Komentar